,

,
  • Berita Terkini

    Rabu, 11 Oktober 2017

    Pembentukan Karakter VS Arogan Pendidik



    Sebagai pendidik tentunya kita pandai beretorika, membela diri di hadapan peserta didik karena kita ingin dihormati dan disegani. Pernahkah kita berpikir bahwa mereka punya perasaan? Jawabannya ada pada hati kita. Setinggi-tingginya langit, maka ada yang lebih tinggi dan tak ada gading yang tak retak. Sebuah ungkapan yang maknanya begitu dalam ketika kita menyadari bahwa mendidik itu menuntun dengan kesabaran dan menunjukkan dengan keteladan, serta contoh yang akan ditiru oleh peserta didik.
    Di mana letak kesalahannya, mengapa pendidikan di negara kita kurikulumnya selalu berganti, bukan kesalahan kurikulum, tetapi letaknya ada pada sistem yang melaksanakan di kalangan bawah. Bayangkan teknik, metode, dan media yang inovatif serta kreatif sudah diterapkan. Sarana penunjang seperti komputer, LCD, dan sederet alat yang ada di laboratorium hanya sebagai penghias ruangan dan pelengkap administrasi semata, semua itu sudah diberikan pamerintah, tetapi hasilnya justru tidak seperti yang diharapkan. Kalau kiita bisa menyalahkan, mungkin kita bisa menyalahkan sebagian pendidik. Alasannya cukup singkat. Niat untuk mendidik dan menjalankan kewajiban untuk mendapatkan hak itu sangat sulit dibedakan.
    1.       Tugas Mendidik
    Tugas mendidik merupakan kewajiban seorang pendidik, tetapi pantaskan dengan gaji yang fantastis dengan tunjangan yang begitu menggiurkan mereka mendidik dengan masuk kelas semau mereka sendiri, dan memberikan seabreg tugas kepada mereka. Bahkan banyak di antara mereka asyik dengan rokoknya di ruang kantor pada saat jam sedang berlangsung. Sementara siswa mengerjakan tugas dan tugas yang begitu melelahkan. Kemudian di akhir pembelajaran ketika siswa tidak mampu mengerjakan soal-soal mereka begitu arogan dengan kemarahannya. Jangan salahkan jika karakter siswa tidak menghormati guru. Bukan niat untuk mendeskriditkan guru, tetapi upaya untuk perbaikan pendidikan demi masa depan generasi bangsa ke arah yang lebih baik.
    Pendidik juga tidak melaksanakan kewajiban dengan mempersiapkan seperangkat perencanaan pembelajaran dengan baik. Mereka sibuk mempersiapkan hanya ketika pengawas datang dan menanyakan atau sebagai prasyarat untuk memperoleh tunjangan atau ketika visitasi datang. Perangkat tersebut hanya sebuah administrasi yang menjadi penghias meja guru dan lemari kurikulum sebagai pajangan saja.
    Upaya pemerintah untuk meningkatkan “mutu” pendidikan tidak akan tercapai tanpa didukung dengan adanya pengawasan kepada pendidik melalui monitoring dan evaluasi dengan memberikan predikat kepada guru baik dari segi integritas dan kemampuan menguasai materi yang diajarkan kepada siswa. Guru juga jangan terlalu banyak memberikan tugas-tugas  yang memberatkan peserta didik, sementara mereka asik dengan dunianya mereka, sebagai perokok asyik di ruangan dengan rokok, bagi mereka yang kecanduan dengan media sosial mereka asyik online, bagi mereka yang hobi berbelanja, di jam pembelajaran tetap asyik berbelanja tanpa malu.
    2.       Hak Peserta Didik
    Peserta didik harus diperlakukan dengan baik sebagai seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan keikhlasan. Bukan dengan sikap arogan dan menyuruh peserta didik harus mengikuti apa yang kita mau tanpa memperhatikan aspek kemampuan mereka. Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, baik dari status sosial dan ekonominya.
    Bayangkan ketika kita memperlakukan peserta didik dengan cara dan metode yang sama, hasilnya mereka tidak akan menikmati haknya sebagai manusia yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Jika di pagi buta mereka harus membantu orang tuanya karena keterbatasan ekonomi, jika mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu sementara mereka tanpa kendaraan dan harus menempuh jarak berkilo meter dan waktu berjam-jam, dan masih banyak lagi hal-hal yang harus kita perhatikan dari mereka. Jawaban yang paling tepat dalam menghadapi masalah komplek yang dihadapi oleh peserta didik adalah mendidik dengan keikhlasan dan ketepikan sikap arogan.

    3.       Hasilnya
    Pernahkan kita berpikir jika tolak ukur keberhasilan semata-mata karena nilai. Sebagian dari kita kadang memberikan penilaian cenderung kepada nilai yang diperoleh dari aspek pengetahuan tanpa memperhatikan hal yang lebih penting yaitu sikap dan keterampilan dalam mengaplikasikan teori-teori. Perubahan kurikulum yang berbasis karakter, ternyata belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perilaku generasi muda, terutama para pelajar.
    Generasi bangsa kita yang semakin terpuruk oleh kenyataan kegagalan dunia pendidikan dalam mengarahkan karakter bangsa, walaupun tidak semuanya. Ada sebagian kecil yang bisa menapak masa depan dengan baik berkat pendidikan. Mungkin jawaban yang belum bisa diaplikasikan oleh sebagian besar penididik adalah mendidik dengan keikhlasan, bukan semata karena menggugurkan kewajiban demi tunjangan.
    Pendidik bisa mendidik dengan keikhlasan dengan rencana-rencana yang disusun dengan baik, bukan karena adanya visitasi atau pengawas yang datang memonitoring dan evaluasi, sementara peserta didik diberikan ruang untuk membentuk karakternya dengan bimbingan guru “bukan keterpaksaan”, maka hasilnya kita bisa melihat.


    Oleh Mujtahid, S.Pd. Guru MTs Negeri Majenang
     

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Pembentukan Karakter VS Arogan Pendidik Rating: 5 Reviewed By: slamet riyadi
    ispi
    ispi
    Scroll to Top