,

,
  • Berita Terkini

    Rabu, 11 Oktober 2017

    ANAK BISA SEBAGAI FITNAH DAN UJIAN, JUGA BISA MENJADI BERKAH



    Banyak orang mengatakan bahwa gejala-gejala krisis nilai seperti yang terjadi di AS dan Barat pada umumnya, pernah terjadi di Romawi klasik menjelang runtuh setelah berkuasa sekitar 500-an tahun. Itu juga didahului dengan hilangnya tanggung jawab pribadi. Orang meremehkan efek perbuatan pribadinya kepada masyarakat, dikira apa yang dilakukan oleh orang perorang hanya berdampak pada dirinya sendiri.
    Guru merupakan contoh yang dianggap mampu dalam segala hal di masyarakat. Keteladanannya sangat penting dalam lingkungan mereka tinggal. Guru adalah seorang tokoh panutan, selain kyai atau tokoh agama tentunya. Sadar ataupun tidak kadang seorang guru mampu mendidik anak orang lain dengan berbagai cara, tetapi kadang sulit mendidik anaknya sendiri. Essensi Surat An-Nisa ayat 9 menurut Saifuddin Ahmad Syatibi Muhammad antara lain (1) setiap orang tua hendaknya merasa khawatir jika meninggalkan keturunanya dalam keadaan lemah, (2) mewujudkan generasi berkualitas merupakan tanggung jawab orang tua, dan (3) bekal yang paling utama disediakan pada generasi muda adalah taqwa dan pendidikan yang baik.
              Tentu saja kita tidak sedang berbicara tentang runtuhnya sebuah peradaban, melainkan tentang krisis nilai yang berdampak pada runtuhnya tanggungjawab pribadi dalam kaitannya dengan nasib generasi mendatang, dan dalam perspektif agama. Tahukah Anda bahwa al-Qur’an banyak sekali berbicara tentang hubungan anak dan orang tua? Tahukah Anda apa akibatnya jika seorang anak tidak tahu siapa orang tuanya? Kehancuran secara psikologis! Tentu yang dimaksud di sini ialah ayahnya, sebab kalau tahu ibunya itu sudah jelas. tetapi bapaknya yang keterlibatannya dalam proses kelahiran anaknya just a view minute itu belum tentu ketahuan. Karena harus ada kejelasan seseorang itu anak siapa, maka penyebutan orang tua selalu nama ayah atau bin. Ini juga berlaku dalam bahasa-bahasa lain seperti Slavia; penggunakan nama belakang sky, itu artinya bin, misalnya Trotsky, yang berarti anaknya Trot. Mengapa demikian? Karena mengetahui ayah itu penting dalam psikologi anak. Anak yang tidak mengetahui ayahnya akan merasa “hancur”, dan itu bisa menjadi sumber krisis. Hal itu terjadi karena pendidikan akhlaq yang dimulai dari rumah oleh orang tua dan ditunjang di bangku sekolah belum mamadai, sehingga ketika mereka terkontaminasi oleh pergaulan bebas, mereka tidak berkuti. Sekali lagi peran orang tua dan guru sangat penting. Guru yang dimaksud bisa di sekolah atau di tempat pengajian (Kyai).
              Kehidupan ayah dan ibu biologis yang kemudian melahirkan anak-anak dengan kejelasan siapa orang tua anak tersebut sangat penting dalam rangka memelihara psikologi dan value si anak, yang kelak berkaitan dengan kebahagiaannya. Itulah sebabnya mengapa dalam al-Qur'an disebutkan bahwa “anak itu fitnah”. Setelah menjadi bahasa Indonesia, kata fitnah itu memang menjadi lebih keras, yaitu fitnah seperti yang kita pahami sekarang. Tetapi dalam arti aslinya (bahasa Arab), fitnah artinya cobaan atau ujian. Hanya saja karena ujian itu sering dalam bentuk-bentuk yang bersifat musibah, maka fitnah itu juga kadang-kadang berarti langsung sebagai musibah, seperti perang saudara atau pembunuhan besar. Tetapi kalau kita kembalikan kepada makna aslinya, anak itu fitnah dalam arti ujian dari Tuhan sebagaimana juga harta. Guru sebagai orang tua kedua juga memberikan peran yang dominan, bahkan kadang melebihi orang tua biologis mereka. Kadang seorang anak sulit diarahkan oleh orang tuang sendiri, justru gurulah yang mampu mengendalikan mereka sebagai orang tua kedua.  
              Di sisi lain, al-Qur'an juga menyebut anak dengan istilah rizq-un (rezeki), yang berarti titipan. Artinya, kalau dapat mendidik anak dengan tepat, maka akan membawa kepada kebahagiaan, sebab agama Islam memang sangat menghargai harta. Oleh karena itulah, perlindungan kepada harta pribadi sangat kuat dalam agama Islam. Orang yang mati membela hartanya dapat dikategorikan mati syahid. Artinya, penghargaan kepada harta itu tinggi sekali dalam Islam, dengan tetap tidak menghilangkan doktrin bahwa harta adalah fitnah atau ujian. Anak merupakan harta yang sangat berharaga. Dengan mendidik anak kita, maka kita akan menatap masa depan di dunia dan akherat. Sebagai guru, tentunya anak juga merupakan harta yang bisa menjadikan kita masuk ke dalam golongan orang yang selamat karena ilmu yang bermanfaat kelak. Sebaliknya, jika hak anak tidak tertunaikan dan menjadikan anak itu kufur dan takabur, maka yakinlah Allah pasti akan meminta pertanggungjawaban kepada kita sebagai seorang pendidik.
              Sebagai orang tua biologis jelas mempunyai tanggungjawab baik di masyarakat, maupun kelak di hadapan Allah. Sebagai seorang guru juga mempunyai tanggungjawab yang begitu besar terhadap perkembangan anak walaupun bukan orang tua biologis, yaitu dengan mendidik berbagai jenis ilmu yang diberikan kepada mereka. Mereka akan menerapkannya di masa yang akan datang.  
                Hak orang tua terhadap anak ialah hak perlakuan yang baik, bagitu pula hak seorang guru. Menarik sekali bahwa dalam al-Qur'an hal ini diilustrasikan sebagai dekrit Tuhan yang kedua. Dekrit Tuhan yang pertama ialah tauhid, tidak boleh menyembah siapa pun kecuali Allah Swt. Sedang dekrit Tuhan yang kedua ialah anak harus berbuat baik kepada orang tua. "Tuhanmu telah menetapkan (membuat dekrit), janganlah yang selain Dia (Allah swt), dan berbuat baik kepada orang tua," (Q. 17: 23). Itulah hak orang tua kepada anak, yang dalam istilah keagamaan (Islam) disebut birr-u 'l-wâlidayn



    Oleh Mujtahid, S.Pd. Guru MTs Negeri Majenang
     
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: ANAK BISA SEBAGAI FITNAH DAN UJIAN, JUGA BISA MENJADI BERKAH Rating: 5 Reviewed By: slamet riyadi
    ispi
    ispi
    Scroll to Top