,

,
  • Berita Terkini

    Selasa, 17 Januari 2017

    Lelaki Ketiga Belas


    Oleh: Mujtahid, S.Pd.
    Guru Bahasa Indonesia, MTs Negeri Majenang
    Aura melati yang kuncupnya mulai mekar. Titik embun yang hinggap diantara kelopaknya memancarkan kesejukan kepada setiap jiwa yang mengerti akan sebuah keindahan, memahami akan sebuah anugerah. Jiwa-jiwa yang kerontang akan sebuah makna yaitu “kesucian”. Makna yang setiap orang bebas mendefinisikan.

    Dalam derai air mata seorang dara yang selalu memanjakan dirinya dengan lantunan lembut ayat-ayat-Nya. Tujuh belas rekaat dalam lima waktu yang menjadi udara untuk mengisi rongga paru-parunya. Kebiasaan yang dianutnya secara turun temurun dari keluarganya, yaitu puasa senin dan kamis. Bahkan bibir yang tidak pernah ia lipstiki dengan membicarakan kejelekan orang lain, berdusta apalagi memfitnah. Tangan lembutnyapun ia tak rela disentuh oleh seorang makhluk yang bernama laki-laki yang bukan muhrimnya. Aura surga itu benar-benar terpancar dari dirinya.

    Wanita yang bernama lengkap Siti Nurfadillah. Anak seorang kyai kampung ini biasanya oleh teman-temannya dipanggil dengan sebutan “Inoe”. Usianya yang memasuki angka dua puluh dua  tahun ini sudah menamatkan lima kitab fikih dan dua kitab alat ini masih dianggap biasa saja dan tidak dianggap hebat, apalagi fenomenal diantara teman-temannya. Padahal mereka menamatkan satu kitabpun belum sama sekali. Mereka akan menganggap wah!, ketika seseorang menamatkan dan menguasai buku pemikiran dan produk barat, walaupun hanya satu atau dua saja. Sadar ataupun tidak pemikiran kita sudah terkontaminasi pemikiran yang mengarahkan kepada kekufuran yang menganggap semuanya hanya berdasarkan logika dan keduniaan saja.

    Belenggu malam ini begitu menyesakkan dada Inoe, ketika seorang pemuda lulusan strata satu sastra Indonesia. Dia seorang tahfid alqur’an dan menyeleaikan pendidikan selama sebelas tahun di pesantren. Muhammad Yazid datang dengan sebuah keyakinan kalau Inoe bakal menerima lamarannya. Dia adalah lelaki ketiga belas yang juga tak jauh beda dengan lelaki sebelumnya, yang harus rela pulang dengan mengelus dada tanpa membawa hati Inoe. Lelaki berkulit putih, otak prima, berwajah tampan, santun dalam bersikap, dan seorang wiraswastawan yang mandiri yang sebenarnya adalah impian setiap wanita. Termasuk juga Inoe.

    Setelah kepulangan Yazid, rona muka yang bercahaya. Yang selalu dibasahi oleh air wudlu. Bukan hanya balutan bedak saja. Tiba-tiba menjadi mendung. Hujan air matanya mengucur begitu deras. Di atas bantal dan kasur yang selalu menghiasi malam sepinya dalam kepedihan, ia curahkan luka-luka yang semakin dalam.

    Lantunan keindahan yang Inoe rindukan untuk mengucap sebuah kata lembut. Menerima seorang pemimpin menjadi kemudi hidupnya, mengharungi bahtera rumahtangga dalam ridho-Nya harus pupus oleh cerita masa lalu. Sebuah pesta ala barat ketika mengucap selamat jalan kepada bangku SMA. Tempat yang meninggalkan banyak sesalan, ketika masa itu telah pergi. Pesta yang memanjakan mereka dengan nada-nada syetan. Budaya yang memupus kebiasaan yang dianut orang tua kita, ketika dulu diacara perpisahan diisi dengan pengajian, namun itu semua sudah langka dan bahkan punah seiring maraknya budaya yang di tebarkan kaum zionis yang mengatasnamakan modern. Kaum anti islam ingin meracuni jiwa mereka agar meninggalkan ajaran islam secara perlahan tanpa mereka sadari. Budaya yang harus dilaksanakan, bahkan mengalahkan hukum fardlunya shalat lima waktu dan rukun islam yang lain.

    Mimpi buruk itu hadir ketika Inoe terpilih sebagai seksi acara di perpisahan ala barat. Dengan desain panggung yang serba wah, dihiasi berbagai jenis bunga dan alat musik yang lengkap Tulisan yang dibuat beraneka warna dan rupa. Pestapun siap untuk dimulai. Hingga acarnya yang belum tersusun rapi.

    Ruang komputer malam itu menjadi saksi hancurnya sesuatu yang katanya disebut harga diri oleh seorang wanita. Setelah meneggak air mineral yang diberikan teman perempuan sekelasnya, tiba-tiba matanya terasa berat, komputer, meja dan kursi yang ada diruang itu tiba-tiba menari-nari. Sesaat itupula tubuh itu rebah di atas sofa. Wanita sholihah ini harus merelakan kesuciannya direnggut oleh iblis yang datang dan pergi tanpa bayangan.

    Luka malam itu lima tahun telah berlalu, namun bekasnya takkan hilang seumur hidup. Itulah yang menjadi alasan, mengapa ketiga belas lelaki yang melamarnya harus menerima penolakannya. Cemooh yang menganggap dirinya terlalu memilih menjadi buah bibir di masyarakat sekitar. Bahkan orang tuanya dibuat bingung oleh sikap Inoe yang beralasan belum siap.

    Salahkah jika Inoe tidak ingin memberitahukan aib itu ke orang tuannya. Dengan satu alasan, dia tidak ingin airmata ayah bundanya jatuh. Biarlah luka itu tertutup rapat. Bukankah seorang lelaki yang meminangnya selalu menganggap dirinya sempurna laksana dewi surga. Tangan lembutnyapun tak rela disentuh lelaki manapun yang bukan muhrimnya. Ternyata wanita yang dianggap mulia itu telah ternoda.

    Kegetiran hidup yang dialaminya, tidak pernah membuatnya berhenti memuji Tuhannya, apalagi mengeluh. Bahkan rasa syukur terucap jelas dari setiap do’a. “ Allah masih menyayangiku, karena aku tidak diberi cobaan yang lebih berat. Bayangkan jika hamil. Kemana aib itu hendak disimpan ? “.

    Dalam pasrahku aku berjanji. Aku tidak akan menikah seumur hidupku. Biarlah aib itu terkubur dalam bersama jasadku di liang lahat. Tempat yang sangat kurindukan.
    ***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Lelaki Ketiga Belas Rating: 5 Reviewed By: MTs Negeri Majenang
    ispi
    ispi
    Scroll to Top