,

,
  • Berita Terkini

    Minggu, 22 Maret 2015

    Air Mata itu

    Karya : Kuni Zumrotut Taqiyah 
    Siswi Kelas IX D MTs Negeri Majenang

    Hujan turun mengguyur senyuman pagi, memandang dari jauh terlihat seorang gadis SMP bernama mira pergi ke tepian sungai dengan sepeda. Di sebelah kirinya terasa air mata jatuh perlahan membasahi pipi. Dari tujuan ke sekolah ia pergi meninggalkan tujuan awal. di pikirannya hanya terdapat rasa sakit yang begitu berarti dalam hati.

    mira duduk di tepi sungai setelah ia berhasil menggapai tempat ini. menundukan kepala dengan di temani rintik-rintik hujan. Meresapi masalah Beban pikiran.perilaku orang tua yang seharusnya menyayangi mira malah mencampakan mira. Sedari kecil mira di didik orang tuanya dengan begitu keras dan kejam tak selayaknya orang tua umumnya. Tekanan dari perlakuan tersebut membuatnya frustasi. Melintas sbuah pemikiran dari hati ingin pergi meninggalkan kehidupan alam, tapi semua itu akan menambah masalah dalam skenario kehidupan. Tepi sungai menjadi pelampiasan luapan kesedihan yang dialami. Ketenangan yang ia butuhkan untuk menjernihkan semua hal-hal yang membebani. Tapi hari ini mungkin tidak, tetap berdiam diri sampai nanti tak ingin kembali ke rumah. Mereka juga tak akan peduli. Hujan tak berhenti meluapkan emosi menutup smua cahaya mentari dari tangis yang ingn membasahi pipi.

    payung warna-warni menghampiri mendekatkan tubuhnya berusaha melindungi.
    "mira???" panggil vero teman sekelas mira di balik payung pelindung hujan ini.
    "Iya" jawab mira masih duduk menundukan kepalanya
    "Lagi ngapain di sini??"
    "Lagi pngen sendiri"
    "memang kenapa??"
    "nggak kenapa-kenapa kok" mulai mengangkat kepalanya
    "Kenapa tadi gak masuk" sambil duduk mendekati mira
    "ada masalah dengan orang tuaku dan aku merasa lelah".
    "memang kenapa? Apakah mereka menyakitimu hingga membuatmu jadi begini"
    "he.em"
    "bersabar lah mira.. Terus berusaha untuk menjadi baik bagi mereka" menyenderkan kepala mira di bahunya. "aku akan menemanimu"

    Masih berdua di tepi sungai mendengarkan melodi rintik hujan yang sedang bernyanyi untuk mereka. Terlepas payung pelangi yg tergenggam di tangan vero. Mencoba ingin rasa apa yg mira rasa. Detik jam yg terus berputar slalu menunjukan arahnya. Dingin mulai di rasa mira yg mulai menggigil d tepi sungai. Vero terus mendekap tubuh lemahnya. Mulai tak sadar, mira d antar vero kerumahnya dengan harapan kan menjadi baik. Orng tua mira terlihat baik seperti sosok yang sempurna. Tapi vero sudah tak ada, Kemarahan tak bisa terelakan dari orng tuanya. Hanya air mata yang bisa ia lampiaskan.

    Keesokan hari Mira berangkat sekolah dengan mata lebam dan wajah datar tanda penderitaannya saat ini. Sepeda ini kan jadi saksi semua lelahnya yang akan slalu tau apa yang di rasa. Mira memakirkan sepeda di sela2 deretan sepeda murid yang lain. Duduk terdiam setelah sampai di kelas, vero tiba2 menghampiri dan duduk di depan bngku Mira.
    "gimana? Udh baikan pa blm" sambil memegangi dahi mira dengan penuh perhatian.
    "udah nggak apa apa lihat aja gimana menurut kamu?" dengan jwbn juteknya.
    "hmm.. Tapi kok masih lemas gitu.. Udah mnum obat?? kan kata ortumu khawatir dan akan memastikan keadaanmu itu baik"
    "huh..." menyodorkan kepalanya ke atas meja.
    "kenapa"
    "nggak apa apa"
    "kamu keliatan masih belum sehat sepertinya". Berpindah duduk di samping Mira menepuk pundak Mira.
    "kenapa kok basah emang belum kering yang kemarin emang orangtua mu nggak ngeringin baju kamu ?"
    "Kepo deh vero, udah nggak apa apa biasa lah"
    "kalau masih sakit ke UKS aja" tawarnya.
    "gak ah"
    "kenapa"
    "males"
    "kog gitu sih.."
    "hmm..nggak apa apa lah lagi males aja" tolak mira
    "ya udah"

    Bel berbunyi vero yang duduk di samping mira pergi meninggalkannya. Semua murid mempersiapkan diri menghadapi pelajaran.

    (Bel istirahat) smua murid berbondong bondong meninggalkan kelas. Menyibukan diri mereka masing2. Hanya tertinggal mira dan vero. Mira Menundukan kepala merasakan dingin di dalam diri ini "aku bisa saja menangis dengan semua penderitaan ini, aku juga bisa marah semauku tapi itu akan jadi masalah hidupku tetap nikmati yang terjadi saat ini kebahagiaan pasti akan dang dengan sindrinya walau bukan sekarang" ucapnya dalam hti. Vero mendekat mngagtkn dn mengajaknya makan bersama di kantin tapi mira menolaknya. Vero Meninggalkan mira sendiri d ruang kelas. Kembali ke kelas membawa 2 roti dan 2 gelas teh hngat yg ia beli d kantin. Mira terus d bujuk vero untk makan. Vero tau mira belum sarapan dari raut wajahnya. Vero Mengangkat kepala mira meminta mira duduk sperti biasa. Menyodorkan roti ke mulutnya dg rayuan teman sekelasnya itu. "Mir ayolah makan aku gak mau kamu sakit kmu jga kdinginan kan .hnya roti dn teh hngat sja mira" mira msh enggan memakannya. "aku akan jadi sepedamu yg terus menemanimu" bujuknya lg. "ah kamu bohong" mulai membuka mulutnya dan melahap roti tsb. "kapan aku bisa bohong padamu?" "nanti kalau kamu lupa" melahap gigitan kedua. "Emm.. Kamu manja maunya aku suapin" mira menarik roti dari tangan vero dan menyuapkan ke mult vero. "kamu juga mau kan aku suapin" "boleh.. Dingin ya sni aku peluk." memeluk mira dg tulus dari hati. "hemm.. Ksempatan liat ini sekolh." menjauhkan dekapan vero. "iya iya.. Kalau msh dngin pake aja jaketku di tas tnggal ambil." "iya" "ayo mkn lg mira" "kamu dlu.." "ok" "1 2 3 eits aku dlu.."memalngkn roti tsb ke mlt mra sndiri "ah kmu". mereka bercanda sampai mira tak lg ingat ksedihan yg menimpa. Tak ada keraguan d antara mereka ktika mreka ingn tkar cerita dri diri mreka masing2. Kebersamaan yg mreka jalin membuat sbuah tali persabtan yg tkkan trpts smpai kpnpun. Keakrabn pengikat btin mreka bhwa mreka yg sling mlengkpi tuk saat ini.

    Malam ini vero mengajak mira ke sbuah tempat yg bgt indah. Disana mreka mencoba mengakrabkn diri mreka lbh dkat. Mereka duduk berdua melhat indahnya alam malm ini yg dianugerahkn thn. Mira menyandarkan kepalanya d bhu vero dg nyaman. Sbuah pertanyaan juga menghampirinya "Indah bgtu indah, apa makna malm ini" "spertinya ini cara thn membhagiakn kta d akhr wktu" jwb vero. "Emm.. Kog gt jwbnya vero" ucap mira lagi. "gak tau tiba2 pngen ngmng gt" mengelus rambut mira. "Kamu akn slalu ada buat aku kan ver slalu temenin aku jagain aku sayangin aku" menatap mata vero dg serius. "iya aku kan slalu ada d sni sperti air yg terus mengalir takkan henti" "apakah airmataku juga dirimu" air mata menetes perlahan d pipi mira. "iya ktika kta gk bsa bersama airmata itulah aku, tapi aku ada d dsni jd kmu gk bleh nangis" ucap vero dg tngn menyeka air mata mira. Mira keluar rmah scra diam2 ia juga sadar akan resiko yg d hadapi. Tapi Untuk malam ini ia hbskn hnya brsma vero menikmati indahnya bintang dn eloknya malam. Resiko itu sdh tdk d pdulikn.

    Setelah malam yg d lalui suasana sklh mereka arungi dg tawa dan bahagia. plang sklh vero menghmpiri mira d tmpt parkir dn tiba2 memeluk mira dg erat. Mira hanya tersenyum sesekali mencoba menghentikannya tp smua itu mempererat pelukn vero. Terus dlm keadaan yg sma smpai 1 jam lamanya. Pelukn itu usai dn vero lngnsng pergi dg senyum di bibirnya. Di sebrang jalan ia berdiri berniat menyebrang jalan. Mira terus memperhatikan temannya tsb dg senyuman yg memancar dr wjahnya. Senyumnya brubh stelah sbuah mobil menghantam tubuh teman terbaiknya. Mira menghampiri dg khawatirnya "Ver, vero! Kenapa kamu ninggalin aku ver, verooo! Seandainya jika aku tau akan seperti ini aku ingin terus memelukmu sampai aku juga merasa sakit ketika darah itu mengalir pada dirimu" Mira terus memeluk vero dg airmata yang mengalir perlahan d pipinya. Smua orang telah datang bermaksud mengantar vero ke rumah sakit. Smpai d rumah sakit vero tak dapat bngun lg untk mnatap dunia. Smua yang ia lkukn brsma vero kn jdi sbuah knangan. Tak lagi nyata hanya air mata.

    Mira duduk di tepi sungai sperti biasa d sore hri. Meratapi indhnya dunia tanpa vero. Ia mengambl bku dn pulpen dr tas ungu mliknya. Sbuah surat pun mira tulis. "Tuhan apakah aku slah saat aku meminta terlpas dri pnderitaan, Tuhan apa aku jga slah meminta sdikit kebahagiaan, Tuhan apa aku juga slah lg saat aku ingn menyayngi, mlindungi, dn akn slalu menemani. 

    Tuhan apakh ini cramu?? Mnyayngiku mlindungiku. Ktika kebahagiaan kau beri dn secpat itukh kau ambil kmbli. Knp?? Kau ambl seseorng yg menyayangiku melndungiku menemaniku tiap wktu kau ambil Tuhan. Jika itu yg terbaik bginya ku hrap kau kan menjaga shbtku sperti ia mnjagaku, melindungi sperti ia melindungiku, menemani sperti ia menemaniku, menyayangi sperti ia menyayngiku. Jangn kau siksa dia Tuhan dia terlalu baik untk kau siksa.

    Sampaikn pesnku untknya tuhan "kuharap kau jngn sdh ya di sna vero tetaplah jd air mataku yg akn slalu menglir smpai aku bsa mnemanimu d sna. Tetaplah tersenyum untkku. Ku kan baik disni. Tetap berdo.a untkmu shbtku aku akn sngat merinduknmu saat kau ad untkku membuat ku tersenyum membuat diri ini begitu bermakna". Tuhan kaulah Tuhan smua khendakmu itlh yg terbaik bgi umatmu".

    Selesai menulis vira membntk krts tsb menjadi perahu dan mengalirknnya d sngai ayunan pertama menetes juga airmatanya hngga mulai menjauh "Vero air mata ini terjatuh berarti kau ad d sni hburlah aku vero". Air mata itu kan jatuh saat aku membtuhknmu, mrindknmu, perlindungnmu, ksh syangmu, perhatianmu,smua kan terangkai menjadi air yg terus mengalir


    ***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Air Mata itu Rating: 5 Reviewed By: MTs Negeri Majenang
    ispi
    ispi
    Scroll to Top