,

,
  • Berita Terkini

    Minggu, 22 Mei 2011

    Meningkatkan Kemampuan Menulis Guru Ma’arif

    Deni Kurniawan As'ari
    Menarik mencermati statemen Ketua PW LP Ma’arif NU Jawa Tengah, Mulyani M Noor, bahwa dari berbagai komponen satuan pendidikan, guru memiliki peran yang sangat vital bagi kemajuan pendidikan. Tak heran, jika guru selalu menjadi ‘garapan’ dalam upaya pencapaian mutu pendidikan. Berbagai upaya ditempuh, agar guru benar-benar berdaya, berfungsi, dan profesional (http://nucentraljava.blogspot.com).

    Di lingkungan LP Ma’arif sen-diri, salah satu kompetensi yang perlu ditingkatkan di kalangan guru adalah kemampuan menulis. Sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan aktifitas kese-harian mereka, baik itu menulis buku, karya ilmiah, cerpen, artikel dan lain sebagainya.

    Tetapi ternyata, kita dibuat prihatin dengan rendahnya budaya dan kemampuan menulis guru-guru di lingkungan LP Ma’arif, tak terkecuali di Jawa Tengah. Guru yang mempunyai kemampuan menulis, bisa dihitung dengan jari.

    Parahnya, rendahnya kemampuan menulis itu tidak hanya menghinggapi guru-guru di lingkungan Ma’arif saja, juga guru-guru negeri (PNS). Sukartono, dalam sebuah kesempatan menyatakan, bahwa prosentase guru PNS di Jawa Tengah yang berhasil naik pangkat ke golo-ngan IV-B, masih sangat rendah. SD (0,20 persen), SMP (2,04 persen), SMA (1,65 persen) dan SMK (1,46 persen).

    Menurutnya, banyaknya jumlah guru yang mentok di golongan IV-A, karena sebagian besar guru masih mengalami kendala dalam me-ngumpulkan angka kredit pengembangan profesi melalui penulisan karya ilmiah (Sawali Tuhusetya: http://sawali.info).

    Sementara untuk kasus guru Ma’arif, seringkali gagal mengikuti sertifikasi, karena pengembangan profesi berupa karya tulisnya, masih kosong-molongpong atau tidak ada sama sekali.

    Faktor Penyebab

    Ada beberapa faktor yang menyebabkan guru, baik yang sudah berstatus PNS maupun swasta, enggan menulis. Pertama, kesibukan. Banyaknya tugas guru, terutama terkait administrasi pembelajaran, belum lagi jika mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, pembimbing ekstra kurikuler dan lainnya, menjadi alasan utama yang dikemukakan.

    Kedua, rutinitas. Aktifitas me-ngajar dari pagi hingga siang, bahkan malam hari, terlebih lagi guru yang suka memberi les tambahan, waktunya habis hanya untuk me-ngajar dan mengajar.

    Ketiga, rendahnya motivasi. Ini menjadi faktor lain yang sering menghinggapi para guru. Selain rendahnya motivasi, juga rasa malas yang mengalahkan mereka.

    Keempat, kurangnya saran pendukung. Dukungan guru untuk menulis, masih sangat kurang, demikian halnya dengan LP Ma’arif Jateng. Berbagai faktor di ataslah, yang menyebabkan guru tidak memiliki karya dan berkreatifitas dalam dunia kepenulisan.

    Urgensi Menulis
    Apa urgensi me­nulis? Mengapa guru harus menulis? Seringkali ini menjadi pertanyaan yang selalu mengemuka dalam berbagai kesempatan.

    Banyak hal yang mendasari, mengapa para pahlawan tanpa tanda jasa itu harus menulis. Pertama, tuntutan profesi.  UU Guru dan Dosen No 14/2005 pasal 8 menyebutkan, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
    Pasal 10 UU Guru dan Dosen tersebut juga menegaskan, kompetensi dimaksud meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.  Nah, menulis merupakan salah satu kemampuan yang nantinya akan mendukung lahirnya guru yang profesional.

    Kedua, manfaat ekonomis. Menulis itu mendatangkan banyak manfaat, baik yang sifatnya moral maupun material. Ada beberapa guru, misalnya, yang berhasil menjuarai lomba karya tulis, sehingga bisa membangun rumah, membeli sepeda motor dan lain sebagainya. Namun yang terpenting dari semua itu adalah, bahwa menulis itu bisa melahirkan kepuasan batin. Karena buah pikiran, ide atau gagasan kita bisa dibaca banyak orang.

    Peran LP Ma’arif

    LP Maárif NU sebagai pelaksana kebijakan pendidikan di tubuh Nahdlatul Ulama, perlu meningkatkan perannya dalam upaya membina satuan pendidikan yang tersebar di teritorialnya.

    Saat ini, jumlah sekolah di bawah LP Ma’arif NU Jateng sangat banyak, yaitu 2119 sekolah. Jumlah ini tentu melibatkan tenaga pengajar yang sangat besar, yang perlu mendapatkan perhatian dan peningkatan secara kapasitas.

    Peranan LP Ma’arif NU Jateng untuk memberdayakan dan mening-katkan mutu pendidikan dari segala aspek, baik manajemen, kurikulum, maupun proses pembelajaran, menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar.
    Salah satu langkah strategis yang bisa dilakukan LP Ma’arif NU Jateng di antaranya dengan memberikan pelatihan kepe-nulisan bagi guru di lingku-ngan Ma’arif tersebut.

    Training kepenulisan bagi guru maupun siswa di lingkungan LP Ma’arif, yang diselenggarakan secara kontinu, bisa menjadi harapan akan munculnya perubahan di lembaga pendidikan di bawah naungan NU tersebut.
    Selain itu, dengan menggelar lomba karya tulis bagi guru maupun siswa, baik tingkat lokal, regional maupun nasional. Hal lain, menjadikan kemampuan menulis sebagai salah satu syarat yang harus dikuasai dalam perekrutan guru.

    Membuat media komunikasi bagi guru dan siswa, juga bisa menjadi salah satu sarana meningkatkan kemampuan menulis. Selain tentunya, pemberian reward bagi guru atau siswa yang berprestasi dalam berbagai event lomba kepenulisan.

    Dengan berbagai hal ini, semoga kemampuan menulis para guru dan siswa di lingku­ngan Ma’arif Jateng khususnya dan Ma’arif secara nasional, bisa diwujudkan. Semoga. [*]

    Deni Kurniawan As'ari  ----Guru Mapel PKn MTs N Majenang
    (Sumber : Majalah Ma'arif, Media Pendidikan Alternatif)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Meningkatkan Kemampuan Menulis Guru Ma’arif Rating: 5 Reviewed By: MTs Negeri Majenang
    ispi
    ispi
    Scroll to Top