,

,
  • Berita Terkini

    Minggu, 29 Mei 2011

    DILEMA PEMBELAJARAN SAINS

    Oleh Ariesta Indriawati , S.Pd ----Guru Mapel IPA MTs N Majenang----


    Profesi guru saat ini tengah menjadi idola baru, diberikannya tunjangan profesi bagi guru yang telah lulus sertifikasi menjadi titik kecemburuan bagi profesi lain. Tetapi sebenarnya menjadi guru profesional tidaklah mudah. Idealita pembelajaran yang dimiliki seorang guru belum tentu dapat direalisasikan dalam pembelajaran yang sesungguhnya apalagi bagi mereka yang mengampu di kelas IX. Adanya tuntutan sukses Ujian Nasional (UN) menjadikan mereka tidak dapat lagi menjunjung tinggi idealisme mereka tetapi justru terjebak pada pragmatisme bagaimana caranya meloloskan seluruh siswanya untuk sukses UN.

    Dalam Standar Nasional Pendidikan Bab IV ayat (1) disebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif , inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik.

    Salah satu materi pembelajaran yang ada di sekolah / madrasah adalah Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) . IPA merupakan materi pembelajaran yang sangat dekat dengan alam sehingga pengamatan terhadap gejala – gejala alam menjadi bagian yang penting dalam proses pembelajaran IPA di sekolah. Pemanfaatan alam sekitar menjadi daya dukung yang kuat bagi kesuksesan proses pembelajaran sehingga diperlukan keahlian guru dalam melakukan pemilihan pendekatan, model dan metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan model dan metode pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai tokoh sentral dalam proses pembelajaran dapat menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas siswa sehingga siswa dapat memiliki ketrampilan belajar, ketrampilan sosial/kooperatif dan ketrampilan memecahkan masalah dengan baik dan menjadikan mereka menjadi siswa-siswa yang mandiri.

    Dalam pembelajaran IPA diharapkan guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran IPA sebaiknya berorientasi pada siswa atau murid sehingga peran guru seharusnya berubah dari menentukan apa yang akan dipelajari ke bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Pengalaman belajar siswa diperoleh dan dikembangkan dari serangkaian kegiatan yang dapat mengeksplorasi alam dan lingkungan melalui interaksi dengan teman, guru, atau narasumber lainnya.

    Adanya tuntutan sukses ujian nasional menjadikan guru perlu berpikir ulang dalam menentukan pilihan pendekatan, model dan metode pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran IPA di kelas IX. Pendekatan pembelajaran IPA seperti pendekatan pembelajaran inkuiri, konstruktivisme, kontekstual dan salingtemas (sains lingkungan teknologi dan masyarakat) tampaknya sulit diaplikasikan di kelas IX mengingat orientasi utama pembelajarannya adalah sukses UN dengan nilai memuaskan sehingga pola pembelajaran yang sering dilakukan oleh guru adalah dengan latihan mengerjakan berbagai macam soal supaya menjadi mudah dikerjakan dengan cepat dan tepat. Seorang guru harus pandai mencari cara smart supaya siswa mampu menghafal dengan cepat dalam waktu singkat, cerdik memilih jawaban pilihan ganda dengan tepat, benar dan cepat, serta mampu memotivasi siswa untuk mau dan mampu belajar menyelesaikan soal – soal IPA dengan ikhlas dan gembira. Langkah-langkah yang dapat ditempuh seorang guru untuk siswa – siswanya yang bersiap-siap menghadapi ujian nasional antara lain adalah dengan membuat jembatan keledai untuk menghafal berbagai rumus dan konsep, strategi berhitung dengan mudah tanpa kalkulator, menyelesaikan berbagai bentuk soal dengan melihat satuan yang terdapat pada pilihan ganda jika siswa lupa akan rumus yang harus dipakai, memberi batasan materi pembelajaran sesuai SKL, mampu membuat prediksi soal berdasarkan soal –soal ujian nasional yang telah lalu dengan menghubungkan SKL terbaru dan penguatan motivasi belajar secara kontinu pada siswa supaya siswa tidak mengalami kejenuhan dalam belajar IPA.

    Kondisi seperti ini sebenarnya sangat memprihatinkan , disatu sisi bangsa kita tengah berusaha memperbaiki kualitas pendidikan negara kita tetapi disisi lain patokan atau standar yang dipakai untuk penentuan tingkat keberhasilan pembelajaran adalah dengan ujian nasional dimana bentuk soal yang dipakai adalah pilihan ganda dengan orientasi aspek kemampuan siswa yang diukur hanya meliputi kemampuan kognitif saja sedangkan kemampuan afektif maupun kemampuan psikomotor siswa menjadi terabaikan . Bentuk soal pilihan ganda jelas kurang dapat mengukur tingkat kreatifitas anak dan kemampuan analitis siswa dalam penguasaan konsep-konsep IPA.

    Tampaknya guru sebagai perencana dan pembuat skenario pembelajaran harus pandai mensiasati kondisi tersebut sehingga tugas guru secara profesional tetap dapat dilaksanakan dengan baik. Idealita yang dimiliki tetap coba dilaksanakan untuk pembelajaran di kelas VII , VIII dan awal semester I kelas IX sedangkan untuk mensukseskan siswa – siswa lolos ujian nasional adalah juga merupakan tugas berat guru untuk melaksanakannya dengan baik. Mudah – mudahan di hari mendatang standar penentuan keberhasilan belajar siswa akan menjadi lebih baik dan mampu mengukur seluruh aspek kemampuan belajar siswa sehingga guru tetap dapat merealisasikan idealita mereka dalam pembelajaran yang sesungguhnya secara menyeluruh.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: DILEMA PEMBELAJARAN SAINS Rating: 5 Reviewed By: MTs Negeri Majenang
    ispi
    ispi
    Scroll to Top