makh SELAMAT HARI JADI PRAMUKA KE-53 makh SELAMAT HUT KE-69 PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI makh TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA AYAHANDA ICIH SUNARSIH, S.Pd (GURU MATEMATIKA) PADA HARI SABTU (16 AGUSTUS 2014) PUKUL 12.00 WIB DI RSUD MAJENANG makh TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA AYAHANDA EMILIA, S.Pd (GURU BAHASA INDONESIA) PADA HARI KAMIS (21 AGUSTUS 2014) DI KARANGPUCUNG

Senin, 25 Agustus 2014

PTK MTs Negeri Majenang Cetak Kartu Digital NUPTK

Pendidik dan tenaga kependidikan MTs Negeri Majenang dalam beberapa minggu ini sibuk mengaktifkan status NUPTK-nya masing-masing. Sejak 18 Agustus 2014, padamu negeri menelorkan program baru yakni  para PTK harus mengaktifkan NUPTK-nya sekaligus mencetak kartu digital NUPTK.

Kartu yang data plus photonya  dimasukkan sendiri oleh PTK tersebut terasa lebih simpel. Kartu menyerupai KTA berfungsi  sebagai  identitas PTK. Setiap PTK dapat mencetaknya sendiri menggunakan printer warna dan kartu tersebut berlaku selama satu semester.

NUPTK sendiri sebagai nomor identitas PTK yang berlaku secara nasional dan menjadi syarat dalam mengikuti berbagai program peningkatan mutu dan kesejahteraan PTK yang di programkan oleh Pemerintah.
Jadi, bagi yang belum tidak ada salahnya untuk segera mengaktifkan sekaligus mencetak kartu digitalnya.


Selasa, 19 Agustus 2014

Tadarus Al-Quran Rabu Pagi Mencetak Siswa Mampu Membaca Al-Quran

Para Siswa sedang mengikuti tadarus Al-Quran di kelas, siswa yang belum lancar dibimbing khusus di musholla
Salah satu amal kebajikan yang dianjurkan dilakukan umat islam yakni membiasakan tadarus Al-Quran. Tadarus Al-Quran berarti membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu Allah SWT.Melalui tadarus Al-Quran ini diharapkan semakin mampu membaca dengan baik. 

Program keagamaan di MTs Negeri Majenang  yang sudah berjalan selama ini dintaranya tadarus Al-Quran setiap Rabu pagi. Para siswa pada jam pertama dengan dibimbing para guru masing-masing di kelas membaca Al-Quran secara bersama-sama. Mereka membawa Al-Quran dari rumah kemudian disimpan di rak kelas yang telah disediakan.

Adapun bagi siswa yang belum bisa atau belum lancar, guru agama secara khusus membimbing mereka di musholla dengan menggunakan metode iqro. Melalui program ini diharapkan seluruh siswa saat lulus dari MTs Negeri Majenang mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar.

Di luar Rabu pagi, para siswa mengikuti pelajaran Baca Tulis Quran (BTQ) seminggu sekali. Selain itu ditambah pelajaran Bahasa Arab.

Senin, 18 Agustus 2014

Meriahnya Karnaval HUT RI Tingkat Majenang

Sehari setelah menggelar upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-69 RI, MTs Negeri  Majenang mengikuti karnaval yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan Majenang, Senin (18/08). 

Karnaval diikuti peserta dari TK, SD/MI, dan SMP/MTs selam -Majenang. kegiatan karnaval dalam rangka HUT RI tersebut berjalan dengan meriah dan berhasil menarik perhatian masyarakat. Warga menyesaki  sepanjang jalan yang dilewati para peserta karnaval. Bahkan beberapa ruas jalan sempat macet karena banyaknya warga yang ingin menyaksikan acara yang tiga tahun terakhir tidak pernah diadakan.
.
MTs Negeri Majenang ikut menjadi peserta dengan mendapat nomor urut peserta 10, namun karena arus lalu lintas yang padat, nomor urut antrean menjadi tidak berlaku. Para peserta mulai berjalan sesuai dengan waktu kedatangan dan tidak lagi berdasar nomor antrean. Dalam karnaval ini MTsN Majenang menerjunkan lebih dari 400 siswa ditambah pendidik dan tenaga kependidikan. Sebanyak 4 (empat) mobil digunakan untuk mengangkut sound system, group hadroh, tim musik  dan operator. Jarak tempuh peserta karnaval dimulai dari alun-alun majenang menyusuri jalan Diponegoro sampai toserba Yogya kemudia belok ke arah kiri menyusuri jalan Doktor Sutomo sampai melewati RSU Majenang kemudian belok kiri dan berakhir di tugu BRI Majenang. Ada 10 (sepuluh) macam jenis yang dilombakan meliputi spanduk/lambang negara, profesi, pertanian, olahraga, kesenian, keagamaan, pejuang, bhineka tunggal ika, dan iptek.


Wiji Lestari salah satu peserta karnaval dari MTsN mengungkapkan senang. "Saya enjoy mengikuti karnaval ini walaupun panas dan sangat capek karena harus berjalan cukup jauh dibawah terik matahari yang menyengat," ujarnya.
Dalam karnaval ini, Kepala MTs Negeri Majenang H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd  ikut bergabung dan berjalan bersama dengan seluruh peserta.  Acara yang dimulai pada pukul 12.30 WIB berkahir pada pukul 17.00 WIB. Sebagian warga mengabadikan momen ini menggunakan kamera telepon genggamnya.

Photo lebih lengkap ada di sana

Upacara HUT RI di MTs dan Lapangan Puncak Manik Berlangsung Khidmat

MTs Negeri Majenang melangsungkan upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 kemerdekaan RI di lapangan MTs dan Puncak Manik, Desa Pahonjean dengan khikmad. Upacara ini diikuti oleh seluruh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan MTs Negeri Majenang.

Upacara pertama dilaksanakan di lapangan MTs Negeri Majenang dan dpimpin langsung Kepala MTs Negeri Majenang, H. Moch . Makhrus, S.Pd., M.Pd. yang dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 08.15 WIB. 


Minggu, 17 Agustus 2014

Anggota Gudep MTsN Majenang Ikuti Upacara Hari Jadi Pramuka

Pemerintah Kecamatan Majenang menggelar upacara dalam rangka memperingati Hari Pramuka ke-53 di alun-alun Majenang, Kamis (14/8) yang lalu. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri dari pelajar, pendidik dan anggota pramuka (gudep) se-Majenang. Upacara berjalan dengan tertib dan lancar. Tema peringatan kali ini bertajuk "Mantapkan Pembentukan Karakter Kaum Muda Melalui Gugus Depan Terakreditasi." Bertindak selaku pembina upacara Camat Majenang, Drs. Sadmono Danardono, M.Si.

Tidak ketinggalan anggota Gudep MTs Negeri Majenang turut hadir dalam kegiatan upacara itu dengan mengirimkan 2 (dua) kelas. Mereka dipandu oleh Okah Imtikhanah, S.Pd, Nurholis, S.Ag dan Atik Wigyati, S.Pd.

Sementara itu hari jadi pramuka di lingkungan MTs Negeri Majenang diwarnai aksi pengumpulan dana atau Bumbung Pramuka Peduli.



Berikut beberapa photo kegiatan tersebut.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Pilar-pilar Pengembangan Madrasah

Oleh : Nur Kholis Setiawan (Direktur Pendidikan Madrasah Direktorat Pendidikan Islam Kemenag RI)
Madrasah sebagai sebuah lembaga atau institusi yang luar biasa besar di Indonesia telah melahirkan berbagai konsekuensi terutama bagi pengelolanya dalam hal ini Direktorat Pendidikan Madrasah. Banyaknya program dan kegiatan akan banyak menyita waktu dan tenaga bagi pengelolanya. Ini merupakan bagian dari konsekuensi pengabdian seseorang yang diamanahi untuk mengawal sekaligus memperbaiki madrasah.
Melihat begitu banyaknyanya kegiatan dan program yang menyibukkan semua penyelenggara dan berbagai pihak maka sudah saatnya profil anggaran itu bisa berorientasi kepada manusia. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) di Ditpenma harus berorientasi pada kemuanusiaan. Logikanya, dalam setiap kegiatan harus ada tahap-tahap persiapan, pelaksaaan dan ada pelaporan. Yang disetiap tahap tersebut harus mempertimbangkan sisi kesejahteraan pengelolanya.
Empat Pilar dari Ibnu Hajar Al-Asqalani
Dalam konteks sebagaimana di atas, saya teringat dengan kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Kitab ini merupakan Syarah kitab Sahih al-Bukhori. Dalam Muqaddimah Fahtul Barri, Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan: La budda ‘ala at-Thalib min ayyakuna lahu Kutubun Sihhah, Aqlun Rajjah, Asatizun Mursyidah wa Bulghatun Mumkinah. Muqaddimah ini akan saya kaitkan dengan signifikasi pengelolaan madrasa

Wajib bagi seorang pelajar untuk memiliki empat syarat yang disebutkan Ibnu Hajar Al-Asqalani, pertama adalah kutubun sihhah (Buku rujukan yang bagus). Ini artinya anak-anak madrasah sesuai dengan usianya, MI, MTs, MA harus mendapatkan buku rujukan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan, berorintasi pada pengembangan keilmuan. Dalam Usul Fikih, ada kaidah Ma layatimmul wajib illa bihi fahuwa wajibun. Ketika belajar hukumnya wajib, maka sarana pembelajaran menjadi wajib. Pemerintah wajib memberikan fasilitas termasuk buku yang berkualitas.
Kedua‘Aqlun rajjah, daya pikir yang lurus atau daya pikir yang berientasi pada kreativitas. Direktorat Pendidikan Madrasah (Ditpenma) memiliki kegiatan atau program Aksioma dan KSM yang mewadahi kreativitas siswa-siswi madrasah. Jadi pengelola madrasah harus memiliki nawaitu yang lurus yakni mendesiminasikan pikiran cerdas madrasah. Jangan sekali-kali cari untung. Sayang sekali sudah capek-capek, pahalanya berkurang hanya karena mencari keuntungan pribadi atau kelompok.
Ditpenma harus bisa melahirkan generasi pemikir yang cerdas berieintasi masa depan, mereka perlu dipancing dengan satu kegiatan yang sifatnya kompetitif, sehingga mereka terbiasa dengan lingkungan kompetitivenesss.  Kalau dibudayakan begitu pasti nalar mereka akan berbeda. Model reward di RA itu merupakan proses memancing dan membudayakan kompetitiveness. Anak-anak ini—dalam telaah psikologis memiliki dorongan untuk lebih maju. Mereka akan sangat terdorong ketika ada impetus harapan.
Saya tidak pernah membayang bisa menjadi seperti sekarang ini. Sebagai anak kyai desa, di lingkungan yang sangat terbatas ekonomi rasanya tidak mungkin saya menjadi seperti ini. Dulu, ketika masih kecil, saya sering berjumpa dengan tamu ayah saya yang datang dari jauh/ luar daerah. Ada satu situasi di masa kanak-kanak ketika saya melihat figur yang memilik prestasi, kemudian saya mengindentikkan agar bisa seperti mereka. Makanya ada doa Allahummaj’al mislahu. Tapi sayang sekali anak-anak sekarang yang dilihat adalah tarian Korea, joget dan lagu yang berorientasi pada seks. Nah, posisi kita adalah memberikan wacana lain dalam hal mendorong prestasi. Yakni generasi yang  petarung dan kreatif.
KetigaAsatidu mursyidah, guru-guru yang memberikan petunjuk.  Saya tidak pernah terpana pada model dan sistem pendidikan Barat. Kita lebih kaya dengan filosofi Islam. Agar peserta didik tidak menjadi Kebarat-baratan, maka kita harus mengubah cara mengajar dan paradigma pendidikan kita. Yang ditulis Ibnu Hajar ini harus menjadi mindset pendidikan madrasah. Bagaimana menjadi guru yang mencerahkan, guru yang menjadi icon, uswah bagi para siswa di madrasah. Kalau misalnya guru perlu di-S2-kan, pasti kita akan buat skema untuk menyeklahkan mereka ke S2, begitu juga yang ingin melanjutkan ke S3 dan berbagai macam pola lain. Akhir tahun kita siapkan dana untuk plesir, memplesirkan guru-guru ke luar negeri. Ini untuk memancing agar guru-guru mau berprestasi hingga mereka menjadi icon bagi peserta didik.
Keempatwabulgatun mumkinatun, logistik yang memadai. Logikanya kuat, logistinya tidak ada, maka tidak akan kemana-mana. Pengadaan Barang dan Jasa banyak jumlahnya, namun dana BOS kurang. Kondisi ini juga menghambat proses belajar mengajar di madrasah. Oleh sebab itu, semua perencanaan harus dibangun di atas idealitas tersebut. Jika ada program yang tidak sesuai dengan dealitas tersebut, maka harus segera direvisi. Statemen Ibnu Hajar di atas bisa menjadi bekal penting dalam memperbaiki madrasah ke depan.
Pilar-pilar dari Ibnu Athaillah
Direktorat Pendidikan Madrasah (Ditpenma) memiliki banyak program dan kegiatan yang dilingkupi dengan kompleksitas aturan-aturan keuangan. Konsekuensinya Ditpenma memiliki  jumlah dana yang besar namun waktunya sangat terbatas untuk membelanjakan dana tersebut.  Ada lima subdit dan satu tata usaha. Sementara setiap hari harus melakukan kerja yang sama dengan pintu yang sama pula. Sehingga tidak ada batas waktu TUP yang meniscayakan semua kegiatan harus dilaksanakan. Saya cukup memahami kondisi tersebut. Hanya memang perlu ada strategi, agar kekosongan-kesosongan yang ada di kantor itu tidak terjadi.
Dalam konteks tersebut saya ingin menyitir kata-kata Ibnu Athaillah dalam kitab al-Hikam.  Ada satu kalimat yang mendalam terkait dengan hal di atas, yakni ma shahibaka illa man shohibaka wahuwa biaidika aduwwun. Artinya bukanlah seorang sahabat yang sejati kecuali ia kemudian menjadi sahabat setelah mengetahui kekurangan sahabatnya itu.
Kalimat tersebut muncul dalam konteks persahabatan atau persaudaraan. Saya akan menariknya ke dalam konteks teamwork. Dalam teori friendship, biasanya orang berteman karena ada kepentingan atau ada sesuatu. Kita mau berteman karena orang tersebut memiliki kualitas tasurrun nadhirin, karena ada beauty, layak dipandang. Ini biasa terjadi di dalam kehidupan. Namun orang tidak mau berteman setelah mengetahui aib atau kekurangan temannya. Tentu saja ini manusiawi. Termasuk juga ketika seseorang akan berbisnis, berdagang dan berniaga.
Ibnu Athaillah memperingatkan kita bahwa sahabat yang sejati yang kemudian menjadi teman beneran setelah mengetahui kekurangan temannya tadi. Rapat kerja ini agendanya membahas program bersama, merumuskan strategi bagaimana dalam waktu yang terbatas itu serapan bisa dijalankan, serta menentukan indikator kinerja–sebagai paradigma baru dalam auditing. Sekarang kegiatan bukan semata-sema hanya difokuskan pada output, tidak sekadar melaksanakan, tetapi kemudian mencoba untuk melihat sekaligus mendapatkan outcome, ada dimensi yang berjangka pandang dan keseriusan tersendiri.
Kalau mungkin selama ini para eksternal viewer yang cukup instens di Litbang, mengenal Pendis itu luar biasa karena dananya banyak, nyebar kemana-mana. Yang didengungkan itu nyebarnya, karena di mana-mana ada Pendis khususnya madrasah. Kasubdit madrasah hampir tidak pernah di rumah karena banyaknya kegiatan. Jadi, situasi yang terlihat yang nyebar tadi tentu tidak mudah kita jawab. Oleh sebab itu, maka harus kita sebar kemanfaatannya. Ada dimensi kemanfaatan yang bisa raih dan masuk dalam dimensi amal jariyah. Kita upayakan menciptakan suatu suasana (enviroment) madrasah menjadi lembaga tujuan bukan alternatif atau pilihan kedua dan seterusnya.
Oleh sebab itu, ini menjadi konsen bersama.  Bagaimana limited time ini tidak menjadi kendala. Kita harus berpikir keras serta kreatif dalam melakukan sofistikasi-sofistikasi administrasi serta saling membantu antar sesama bagian. Ketika ada program koordinasi kesiswaan atau kelembagaan atau kurikulum sertifikasi—saya menghitung ada 160 kegiatan untuk Ditpenma—itu  belum yang berperiode. Ini bisa kita bayangkan mulai efektif awal Juli kita harus menyelesaikan pada akhir Novemer ini. Tentu  akan sangat menguras waktu.
Oleh sebab itu, saya menyarankan kepada semua untuk mendahuluan prioritas. Dirjen sudah menginstruksikan kepada para direktur untuk menyelesaikan program prioritas yang sudah ada salah satunya adalah bantuan sosial sebanyak 425 milyar. Bantuan Sosial kalau kita support dengan sistem informasi yang baik pasti akan mempermudak kerja, meskipun tidak 100%. Kita bisa awali dengan melakukan beberapa kali konsinyering dengan kasubdit. Kita akan padukan sehingga sistem informasi ini yang akan mempermudah dan akan memberikan rambu-rambu. Sehingga gangguang dalam mengelola  bantuan sosial bisa diminimalisir. Jadi, dengan prinsip prioritas ini, disela-sela kegiatan yang akan diselenggarakan selama akhir bulan Juli,  tentu disela-sela waktu yang masih ada mekanis bantuan sosial ini bisa dikawal.
Untuk persiapan 2014 saya sudah sampaikan argumentasi saya ke Dirjen, bahwa masing-masing subdit perlu ada unit-unit pelaksana. Saya menghitung beban subdit sudah sangat overload bila dilihat dari sdm yang ada. Di subdit pendidik dan tenaga kependidikan banyak sekali tugas yang belum selesai diantaranya adalah sertifikasi guru madrasah, angka kredit dan beban kerja lainnya yang tidak mungkin hanya ditangani oleh lima belas orang. Begitu juga di subdit-subdit lainnya.
Melihat terbatasnya SDM dan banyaknya kegiatan, apakah mungkin kita bisa membantu atau meningkatkan gengsi kompetensi sains madrasah?  Saya juga akan mencoba komunikasi dengan para saintis internasional. Ketika memupunyai kegiatan AKSIOMA, KSM, BOS, BSM rasanya tidak mungkin hanya ditangani oleh 15 orang. Itu tidak akan menyelesaikan. Beban yang harus dibawa oleh para kasubdit dan bawahannya begitu banyak.
Dalam mengatasi hal ini, sekarang kita godong payung yurisprudensi, yakni PMA tentang Penyelenggaran Madrasah. Kita sudah memiliki UPAN, UP3, Unit Pelaksana Akreditasi Kelembagaan. Kalau kita sudah punya unit pelaksanaan, maka logistiknya bisa digulirkan. Saya minta agar diagendakan untuk melihat dilihat kemungkinan-kemungkinan pengadaan unit di subdirektorat.
Selain itu, kerjasama-kerjasama dengan pihak asing atau lembaga pemerintah juga perlu dibuka. Saya juga sudah melakukan pendekatan untuk membuka kemungkinan kerjasama dengan AMINEF, yakni mencari relawan-relawan dari AMINEF untuk mengajar di madrasah. Maka di subdit harus ada pelaksana yang in charge  di posisi tersebut.
Rasanya harus ada analisis human resource dengan beban yang akan ditanggungnya. Kalau sudah dianalisis dan ketahuan hasilnya bahwa kita memerlukan banyak staf dan selanjutnya tinggal kita sinegikan saja. Maka hal ini perlu diagendakan dalam sidang komisi.
Terkait dengan dengan skala prioritas—saya  melihat ke depan—ketika kita mencoba berpikir out of the box. Madrasah adalah kontributor terpinting bagi peradaban Islam nusantara. Saya belajar dari kegagalan sistem pendidikan Islam yang dipegang oleh Menteri Pendidikan, Daud Yoesoef. Pada masa beliau, perguruan tinggi negeri Islam tidak bisa menerima alumni pesantren. Selain itu, yang masuk di PTAI itu adalah alumni yang tidak lulus di UGM, UI dan perguruan tinggi lainnya, di mana calon mahasiswa tersebut banyak berasal dari SMA/SMK.
Selama madrasah yang memiliki kualitas yang bagus, maka alumninya tidak hanya masuk PTAI, tetapi juga bisa masuk di PTN. Yang sekarang terjadi adalah siswa SMA/SMU banyak tidak lulus masuk PTN sehingga mereka mendaftar ke IAIN. Mereka terpaksa menerima itu. Ini tidak boleh terjadi di dalam sejarah Islam.
Maka Kemenag menangani dari RA sampai Perguruan tinggi. Saya berpihak bahwa madrasah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi terbaik Islam. Geliat terbaru, siswa Insan Cendekia dalam hal sains mampu sejajar dengan alumni perguruan tinggi dan luar negeri. Persoalan kemudian adalah bagaimana dengan siswa madrasah yang meambil program yang bukan sains. Ini perlu kita pikirkan. Kita sudah membahas PMA tentang Penyelenggaraan Madrasah dan akan segera keluar. Keluarnya PMA akan membuka pintu yang sangat luas bahwa madrasah untuk berkreasi, mungkin akan ada lagi seperti MAPK dan lain-lain. Ini yang perlu kita dorong.  regulasi juga harus diatur untuk memanyungi madrasah.
Madrasah menjadi penyumbang penting dalam pengembangan Islamic Higher Education. Oleh sebab itu, kita sebagai insan yang memiliki prideness (kebanggaan) tersendiri. Saya ingin sedikit cerita tentang negara Jerman. Di Jerman ada institusi yang konsen untuk menciptakan guru agama Islam. Institusi tersebut berada di bawah Fakultas Theology. Institusi ini dibackup habis-habisan oleh negara. Pasca tragedi 11 September 2001, Islam tidak pernah di-reken di sekolah baik oleh guru maupun pemerintah. Namun paska 11 September 2001,  Islam mulai diperdebatkan dan dipelajari. Statistik muslim semakin berkembang di Eropa. Sedangkan orang Eropa tidak mau memiliki anak dengan berbagai alasan seperti alasan hak, fisik dan medis. 85%  bayi yang terlahir dari rahim orang Eropa asli itu minimal autis. Mereka terbiasa mengkonsumsi alkohol baik laki-laki maupun perempuannya. Itu berdampak pada kesehatan. Mereka paling benci dengan anak. Sampai pemerintah itu memberikan tunjangan bagi yang mereka mau melahirkan anak. Yang melahirkan dapat tunjakan 400 Euro atau sekitar 70 juta, belum santunan lainnya. Persoalan bukan karena uang, emansipasi, hak, medis, dan gengsi.
Kondisi tersebut kemudian dinikmati orang asing (imigran)  yang muslim dari Turki dan Timur Tengah. Mereka akan beranak pinak di sana. Coba banyakan, dalam waktu 25 tahun terakhir, perbandingan angka kematian dan kelahiran adalah  1 banding 10. Komunitas muslim di Jerman ini mendapatkan perlakuan yang sama seperti warga negara asli, karena mereka sudah memenuhi undang-undang keimigrasian, meskipun pada awalnya praktinya berbeda. Konsekuensinya seluruh sekolah-sekolah di Jerman diajarkan agama Islam. Banyak profesor muslim baik muslim Jerman atau keturunann, tenaga edukasinyapun juga muslim. Institusi ini hanya mampu melahirkan 200 guru pertahun. Padahal kebutuan pertahunnya adalah 10.000 guru. Betapa negara-negara yang dianggap maju dengan infrastruktur yang tertata mewajibkan adanya pengajaran agama Islam di sekolah-sekolah umum.
Nah, kita sudah melakukan melalui madrasah bahkan sebelum kemerdekaan. Saya sepakat dengan para ilmuan sosial, bahwa dalam kontek percaturan peradaban, diprediksi ke depan peradaban Islam nusantara menjadi salah satu penyangga peradaban Islam dunia. Negara kita terdiri dari kepulauan dengan keargaman yang luar biaya. Mayoritas beragama Islam. Sampai negaranya masih stabil. Masih masih bisa menghargai keragaman. Ini yang terjadi di Indonesia di saat bangsa lain sudah tidak bisa melakukannya.
Muslim Indonesia ke depan akan menjadi penyangga peradaban Islam baru. Ini tidak akan terjadi tanpa adanya institusi Islam seperti madrasah,  pesantren dan perguruan tinggi islam. Dengan bahasa yang ekstrim, tanpa adanya pendidikan Islam mungkin Islam Indonesia tidak akan seperti ini. Pendidikan Islam Indonesia telah berhasil mengajarkan siswanya untuk memisahkan antara Islam dan Arab. Islam Indonesia adalah Islam subtanstif.
Saya pernah menyindir teman-teman FPI. Dulu para Wali Songo itu sering mengislamkan orang kafir, tapi FPI sekarang malah terbalik, mengkafirkan orang Islam. Nah, ini menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga Islam. Madrasah kalau ditangani dengan serius pada konten akademik, supporting environment, desain kurikulum yang baik, maka saya yakin madrasah mampu menciptakan generasi yang lebih baik daripada lembaga pendidikan pada umumnya.
Senafas dengan definisi madrasah adalah lembaga pendidikan yang dikelola kemenag yang bercirikan Islam, maka kata bercirikan Islam ini menjadi point of different dibanding sekolah lain. Dulu, kalau sekolah pasti umum, dan madrasah adalah Islam. Namun ketika madrasah dilembagakan menjadi sekolah yang bercirikan Islam, ini menjadi added value tersendiri, maka ini menuntut perhatian dan kepedulian kita untuk memperbaiki madrasah secara bertahap untuk generasi mendatang.
Pilar-pilar dari Asy-Syaukani
Madrasah juga harus senamas dengan tradisi keilmuan Islam yang ada. Saya akan kutip tafsir Fathul Qadir karya As-Syaukani. Dalam muqaddimahnya beliau menyatakan: “Inna garimal mufassirina tafarraqu fariqaini wa salaku ila thariqaini. Al-farikul awwaalu tamassaku fi dhahiri ‘ala mujarradil riwayati.  Wal fariqul akhor: jarradu al dharabbi ma taqtahidi billughah.
As-Syaukani memotret bahwa pada masa sebelumnya mufassir itu terbagi menjadi dua. Golongan pertama adalah mufassir yang berpegang tegus pada riwayat.Kedua, adalah mufasir yang berpegang teguh pada bahasa. As-Syaukani mengkritik keduanya, seharusnya mufassir harus menggabungkan dua pegangan tersebut, riwayat dan bahasa. Tidak bisa salah satu. Maka As-Syaukani merekomendasikan:Wal ashoh al-jam’u bainahuma. Yang lebih baik adalah menggabungkan keduanya.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari statemen as-Syaukani adalah bahwa penghargaan intelektualitas pendahulu kita merupakan keniscayaan. As-Syaukani telah melakukan hal itu. Perkembangan intelektualitas akan terus berlanjut seiring zaman dan tidak akan pernah berhenti. Proses apresiasi, kritik, dekonstruksi, afirmasi, proses penambahan pasti terjadi dalam sejarah pemikiran Islam. Dan as-Sayukani tidak puas dengan bertumpu/merujuk pada yang ada, namun ia melakukan pengembangan yakni dengan melakukan menggabungan metode riwayah dan bahasa.
Dalam konteks madrasah, sudah saatnya kita tidak berhenti pada definisi madrasah adalah sekolah yang dikelola Kemenag dengan bercirikan Islam. Definisi tersebut adalah kontribusi pendahulu kita dan kita harus step forehead dari definisi tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap apa yang dihasilkan oleh para pendahulu.
PMA tentang Penyelenggaraan Madrasah menjadi payung induk madrasah. Dapat dipastikan, kalau PMA ini tidak ada, pasti madrasah akan membebek ke Kemendikbud. Nomenklatur madrasah akan tetap sama dengan nomenklatur sekolah di Kemendikbud. PMA akan membuat pembeda. Ketika PMA sudah ada dan ditandatangai maka akan memunculkan tanggung jawab serta kepedualian kita untuk bisa mengoptimalkan serta mengembangkan madrasah sesuai dengan tantang zaman.
Kalau boleh berandai-andai, sebenarnya madrasah ini tidak layak di bawah direktorat, harusnya jadi Direktorat Jenderal.
Dengan mengembangkan kekhasan ciri keislaman itu, maka madrasah tidak akan ketinggalan dengan sekolah lainnya. Tentu ini meniscayakan perhatian dalam level yang tinggi. Saya merencanakan menyusun naskah akademik pengembangan madrasah.
Oleh sebab itu, kita bersama-sama coba berpikir ke depan jauh. Memang cukup melelahkan dan mudah-mudahan ini menjadi refreshing penting. Raker ini bisa menjadi vitamin tersendiri bagi kita. Mindset  pola pikir yang perlu diterapkan dalam mengelola madrasah ini adalah amal jariyah, bagaiman kita bisa mendapatkan salah satu amal yang tidak berhenti. Kita selalu memohon. Apa yang kita lakukan niatilah dengan amal jariayah yang didapatkan itu berkah, punya pahala yang awet dan menyelamatkan kita. Bagaimana kemudian kita ke daerah lalu bertugas, melaksanakan program kemudian berdiskusi, terkait dengan tender ada hantu-hantu kecemasan, insyalllah itu akan meringankan. Dengan begitu kita akan menjadi orang sehat. Kalau kerjanya menggurutu itu bisa cepet sakit. Kita ciptakan suasana yang menyegarkan, sehat dan berorientasi pada masa depan. Sehingga godaan bisa kita hindari. Closing-nya, prespektif bekerja di Direktorat Pendidikan Madrasah adalah amal jariyah. Sekecil apapun yang kita lakukan, niatilah sebagai amal jariyah.
Pilar-pilar dari Confusianis, Abu Lais As-Samarqandi dan Tajuddin As-Subkhi
Fungsi manajemen sangat penting dalam pengelolaan madrasah. Belum adanya keselarasan antara Pusat dan Daerah dalam mendesign mendesign program dan pengalokasian anggaran merupakan bukti kurang baiknya manajemen Pusat-Daerah. antara Direktorat Madrasah dan Kabid di Provinsi-provinsi. Kita telah mencaba membikin matrik pusat-daerah. Pasti nanti akan kelihatan sangat jomplang.
Ini sebuah kenyataan dan ini merupakan indikator agar kita harus terus memperbaiki bukan mempermasalahkan. Confusianisme mengatakan to make a mistake and not correct it is a real mistake. Salah itu manusiawi. Meskipun begitu, apa yang belum sinkron, mohon disinkronkan. Jadi, kegiatan evaluasi ini sangat penting. Kita seharusnya tidak berhenti pada kekuarang namun juga harus melanjutkan merumuskan strategi-strategi agar kekurangan tersebut tidak berulang lagi.
Saya teringat dengan karya Abu Lais As-Samarqandi yang berjudul Bustanul ‘Arifin. Dalam karya tersebut, beliau mengatakan Qayyidu al-‘Ilma bil Kitab. Yang artinya ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Jadi untuk mengembangkan sesuatu kita harus menuliskannya. Ketika tadi kita bedah program 2013, kita temukan banyak kekuarangannya. Kekurangan tersebut harus kia dokumentasikan (baca:tuliskan) sebagai basis dalam penyusunan program-program tahun depan.
Semua harus di atur dengan baik sebagai usaha perbaikan manajemen dan sistem. Kegiatan evaluasi ini menurut saya sangat islami. Dalam kitab Jam’u al-Jawami’ karya Tajudin As-Subkhi disebutkan bahwa ma tsabata bi as-Syar’i muqaddamun ‘ala ma tsabata bi as-Syarthi.  Syarat untuk menuju syar’i harus dipenuhi terlebih dahulu dan ia juga menjadi wajib.
Agar madrasah mendapatkan akreditasi yang baik maka piranti-piranti menuju akreditasi juga wajib dipenuhi. Untuk menyusun program-program yang lebih baik lagi ke depan, piranti-piranti seperti evaluasi dan pendokumentasian kekuaran-kekurangan dalam menjalankan program sekarang sebagai basis penyusunan program ke depan juga menjadi wajib. Jadi evaluasi ini menjadi sangat Islami sebetulnya. Paling tidak kita harus bisa memenuhi fungsi manajemen yakni how to plan, how to implement and how to reportPlaning harus berbasis evaluasi. Tujuannya menyempurnakan yang masih kurang. Tiga hal tersebut harus kita temukan terus menerus dalam setiap kegiatan di madrasah.

sumber : Madrasah.kemenag.go.id

Selasa, 12 Agustus 2014

Silaturahmi Kelurga Besar MTs Negeri Majenang

MTs Negeri Majenang pada hari Sabtu (9/8) kemarin mengadakan Silaturahmi Keluarga Besar MTs Negeri Majenang yang berlangsung di Aula MTs. Acara ini bertajuk "Melalui Silaturahmi Kita Raih Kemenangan Hakiki".

Acara yang menjadi agenda rutin setiap tahun ini diikuti oleh seluruh civitas akademika MTs beserta keluarga dan pada acara ini juga disampaikan ceramah oleh Kyai Sukiran. Kemudian acara ditutup dengan bersalaman, saling maaf memaafkan antar civitas akademika MTs Negeri Majenang.

Hadir dalam acara tersebut Kepala MTs Negeri Majenang, ketua komite dan kepala desa Pahonjean.

Berikut photo-photo  kegiatan.



















Selasa, 05 Agustus 2014

255 Guru se-KKM MTsN Majenang Ikuti Silaturahmi dan Halal Bihalal

Sebanyak 255 pendidik dan tenaga kependidikan dari 13 MTs se-KKM MTsN Majenang mengikuti Silaturahmi dan Halal Bihalal Idul Fitri 1435 H. di lapangan MTs YPI Sufyan Tsauri, Limbangan, Wanareja, Senin (4/8) kemarin. 

Hadir dalam kegiatan itu Pengawas Kemenag Rumpun Cilacap Barat, Dra. Hj. Umiyanti, M.Si, Ketua KKM MTsN Majenang, H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd, para kepala MTs se-KKM MTsN Majenang dan tamu undangan lainnya. 

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan sholawat nabi kemudian laporan ketua panitia, sambutan-sambutan dan ceramah silaturahmi serta mushofahah.


Jaenal Abidin, S.Pd,  selaku Kepala MTs YPI Sufyan Tsauri, Limbangan, Wanareja yang sekaligus ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan silaturahmi rutin diadakan tiap tahun di lingkungan KKM MTsN Majenang. “Tahun ini merupakan kegiatan silaturahmi yang kelima kalinya,” tutur kamad termuda tersebut. 

Adapun Ketua KKM MTsN Majenang, H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd, menyampaikan kegiatan silatrahmi merupakan salah satu program kerja KKM MTsN Majenang. “Melalui silturahmi ini diharapkan semua guru dapat bersilaturahmi tanpa harus datang ke MTs masing-masing. Kegiatan ini menjadi wahana efektif untuk saling bermaafan satu sama lain,” ungkapnya. 

Acara silaturahmi diisi juga ceramah yang disampaikan oleh H. Sobar Zuhdi, S.Pd.I. yang juga Kepala SMA Ma’arif NU Kemranjen, Banyumas. Dalam pemaparannya beliau megupas seputar makna silaturahmi, pentingnya naik haji dan filosopi perbedaan wanita dan laki-laki. Ceramah yang dibawakannya diselingi guyonan sehingga para peserta nampak antusias menyimaknya dan sesekali tertawa karena lucu. Di akhir acara seluruh peserta mushofahah (bersalam-salaman) antara satu dengan yang lainnya untuk saling bermaaf-maafan. Para kepala MTs berjejer di depan dan disalami oleh para guru yang hadir. 


Ada hal menarik dari kegiatan silaturahmi kali ini, di mana para guru MTs El-Bayan yang berpakaian serba putih membagikan sabun kepada peserta secara gratis. Konon, sabun tersebut dapat membakar lemak dan melangsingkan tubuh yang gemuk. Kegiatan bagi-bagi sabun tersebut sempat menarik perhatian para peserta silaturahmi. Apalagi yang menerima sabun itu harus tanda tangan dan dicatat nomor HP-nya. Beberapa guru berseloroh,” Wah, guru MTs El-Bayan nyambi sales ya...” 

Sarifudin, S.Pd.I, salah satu peserta silaturahmi dari MTs Negeri Majenang berpendapat bahwa kegiatan silaturahmi tahun ini berjalan cukup baik. “Terutama isi ceramahnya menarik karena sesuai dengan konteks lokal dan peserta. Saya tertarik dengan filosofi adam dan hawa yang dipaparkan penceramah,” ungkap mahasiswa pascasarjana STAIN Purwokerto tersebut sembari tersenyum. ***

Senin, 04 Agustus 2014

Halal Bihalal Guru dan Siswa MTsN Majenang

MTs Negeri Majenang menggelar halalbihalal dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1435 H, di lapangan MTs, Jalan Raya Pahonjean No. 11 Majenang, Senin (4/8). Acara halalbihalal ini dilangsungkan pada hari pertama masuk sekolah pasca libur lebaran. Kegiatan yang telah rutin ini berlangsung penuh keakraban dan sederhana.

Para pendidik, tenaga kependidikan dan seluruh peserta didik saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan. Dalam acara ini nampak Kepala MTs Negeri Majenang, H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd yang sekaligus memberi sambutan.

Sebelum bersalaman, acara diisi dengan penyampaian permohonan maaf dari peserta didik yang diwakili oleh Ketua OSIS, Oki Saputra.

"Saya mewakili teman-teman menyampaikan permohonan maaf kepada bapak dan ibu guru,” ungkap siswa asal Balekambang tersebut. Selanjutnya Kepala MTsN mengungkapkan bahwa momentum halal bihalal ini sebagai sarana saling bermaafan. “Permohonan maaf dari para siswa kami terima, dan mulai sekarang posisinya nol-nol ya,” tuturnya sembari tertawa.

Sementara itu, setelah acara berlangsung diadakan doa’ bersama yang dipimpin langsung oleh K.H. Drs. Syukur, guru fikih yang juga pengurus MWC NU Cimanggu.

Photo kegiatan di sini 

Jumat, 18 Juli 2014

Ekspektasi Masyarakat Terhadap Pendidikan di Madrasah

Oleh : Sarifudin, S.Pd.I. 
Staf Edukatif  MTs Negeri Majenang dan Mahasiswa Pascasarjana STAIN Purwokerto Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam 

Era sekarang ini orang berharap banyak terhadap pendidikan. Lewat pendidikan semua orang sangat berharap akan ada perubahan pola hidup dan perilaku generasi masa depan. Memang tidak bisa dielakan era sekarang, masyarakat mulai membutuhkan pendidikan yang seimbang sebagai bekal untuk menghadapi arus akses teknologi yang sangat mudah didapatkan. Perkembangan zaman tidak bisa dikesampingkan lagi dan tidak bisa dihindari, apalagi hanya dengan bekal pengetahuan umum saja. Tentunya hal demikian butuh perhatian penuh antara pendidik dan anak didik.

Pendidikan bernuansa Islami memang solusi tepat untuk membentengi moral anak bangsa zaman sekarang. Pendidikan Islam menurut Haidar Putra Daulay (2004 : 65) pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruhnya potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani. Potensi manusia yang berbentuk jasmani adalah potensi sesuatu hal terkait pergerakan tubuh atau life skill. Sedangkan potensi manusia yang berbentuk rohani merupakan bagian pencernaan dari hal-hal yang bersifat ibadah. Di antara keduanya menjadi satu untuk kebutuhan jasmaniyah dan rohaniyah pada diri manusia itu sendiri. Sehingga menumbuh suburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi dengan Allah SWT, manusia dan alam semesta. Sehingga pendidikan menurut Faisol (2011 : 7) merupakan wahana untuk mengasuh, membimbing, dan menididik putra putri generasi penerus bangsa untuk bisa menjadi warga negara yang baik supaya mempunyai keseimbangan hidup antara duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan hidup dalam hal ini pendidikan memang sudah menjadi selayaknya ditekankan pada masa generasi sekarang, sebagai pondasi kuat dalam menghadapi arus globalisasi yang sekarang sudah mulai kita rasakan. Masyarakat sekarang banyak berharap dari buah hasil pendidikan, tentunya ini menjadi pemicu antusias seluruh anggota lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta dalam rangka meningkatkan mutu sekolah/ madrasah. 


Modernitas tekhnologi dalam dunia pendidikan pada saat ini cukup membantu sebagian masyarakat sebagai media informasi. Dalam dunia pendidikan kebutuhan akan informasi didapatkan melalui proses kegiatan pembelajaran dari seorang  guru (transfer of knowledge) yang meliputi pengetahuan umum dan agama. Sehingga sistem pendidikan Islam harus dibangun di atas konsep kesatuan (integrasi) antara pendidikan qalbiyah dan pendidikan aqliyah. Dengan demikian, pendidikan Islam menurut Soleh Bagja (2005 : 179) mampu menghasilkan manusia Muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Disinilah pentingnya penggalian pendidikan yang bersifat qalbiyah dan pendidikan aqliyah. Sehingga mampu merealisasikan pendidikan yang berbasis masyarakat, ini berarti kebutuhan masyarkat terpenuhi akan pendidikan agama dan pengetahuan umum. 

Madrasah sebagai sarana pendidikan yang berciri khas Islam yang termaktub penyeimbang antara pengetahuan umum dan agama. Dalam hal demikian, masyarkat mempunyai keyakinan akan putra-putrinya yang dititipkan di madrasah, suatu saat kelak menjadi putra-putri yang bisa membanggakan kedua orang tua. Kondisi zaman sekarang yang sedang merebak degradasi moral dan mental, maka dibutuhkan pendidikan yang cukup, sebagai bekal masa depan. Perhatian masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang asal-asalan, saat ini mulai ditinggalkan. Maka dari itu pentingnya memperhatikan kualitas sumber daya manusia yakni tenaga pendidik dan kependidikan. Karena itulah kaitan masyarakat dan pendidikan menurut Umar Tirtarahardja dan S.L La Sulo (2005 : 179) dapat ditinjau dari tiga segi yaitu : Pertama, masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan baik dilembagakan maupun tidak dilembagakan. Kedua, lembaga-lembaga masyarakat atau kelompok sosial masyarakat baik langsung maupun tidak langsung mempunyuai peranan dan fungsi edukatif dan ketiga dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang maupun tidak dirancang dan dimanfaatkan.
Dengan demikian sudut pandang tentang masyarakat adalah sistem sosial yang di dalamnya unit-unit melakukan saling hubungan dalam memberi aksi dan reaksi terhadap setiap peristiwa. Setiap aksi-reaksi masyarakat merupakan respon sekaligus stimulan bagi munculnya inovasi dan transformasi dalam masyarakat itu sendiri. Selama ini orang berharap banyak terhadap pendidikan Islam khususnya madrasah. Sebab lewat pendidikan di madrasah, maka anak-anaknya selain menjadi cerdas, juga diharapkan memiliki akhlak yang baik. Atas dasar  itu, maka lembaga pendidikan Islam yang dikenal maju akan menjadi rebutan orang.  Banyak lembaga pendidikan Islam khususnya masyarakat di perkotaan, meskipun harus membayar dengan biaya yang eksklusif,  banyak  didatangi oleh calon wali murid yang mengetahui mutu dan kualitas hasil pendidikan, harapannya.

Namun dibalik kepercayaan dan harapan masyarakat terhadap pendidikan Islam, dalam hal ini pendidikan di madrasah dituntut memiliki nilai lebih dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Secara nyata masyarakat menginginkan agar nilai-nilai Islam yang ada selama ini dianggap sebagai solusi dan juga harus bisa diwujudkan dalam perilaku para guru, siswa, dan lulusannya. 

Pada saat ini, masyarakat juga menyadari penuh bahwa setingkat apapun lulusannya tidak selalu mudah untuk mendapatkan pendidikan yang ideal. Akan tetapi, masyarakat tidak mau lembaga pendidikan Islam tidak bisa membentuk perilaku atau akhlakul karimah dalam keseharian di masyarakat. Lembaga pendidikan Islam harus berhasil membangun perilaku yang bercirikan akhlaq mulia sebagaimana yang tergambar  pada  nilai-nilai Islam itu sendiri. Akhirnya, hal yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa seharusnya  selalu ada  usaha untuk menyadarkan yang mendalam dari kalangan lembaga pendidikan Islam sendiri, bahwa ternyata  masyarakat sekarang selalu memantau dan mengevaluasi terhadap hasil pendidikan Islam yang selama ini ada dalam materi pembelajaran yang ada di madrasah yakni Qur'an Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqih dan SKI. Tentunya penggambaran proses kegiatan pembelajaran ini harus ada stimulan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan penilaian yang positif.